Penyakit Tuberkulosis

PENDAHULUAN

Penyakit TBC adalah merupakan suatu penyakit yang tergolong dalam infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Penyakit TBC dapat menyerang pada siapa saja tak terkecuali pria, wanita, tua, muda, kaya dan miskin serta dimana saja. Di Indonesia khususnya, Penyakit ini terus berkembang setiap tahunnya dan saat ini mencapai angka 250 juta kasus baru diantaranya 140.000 menyebabkan kematian. Bahkan Indonesia menduduki negara terbesar ketiga didunia dalam masalah penyakit TBC ini.

Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa, Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Jenis bakteri ini pertama kali ditemukan oleh seseorang yang bernama Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, Untuk mengenang jasa beliau maka bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan penyakit TBCpada paru-paru pun dikenal juga sebagai Koch Pulmonum (KP).Penyakit Tuberkulosis  adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Kuman Tuberkulosis berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.

Penularan penyakit TBC adalah melalui udara yang tercemar oleh Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan/dikeluarkan oleh si penderita TBC saat batuk, dimana pada anak-anak umumnya sumber infeksi adalah berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Bakteri ini masuk kedalam paru-paru dan berkumpul hingga berkembang menjadi banyak (terutama pada orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah), Bahkan bakteri ini pula dapat mengalami penyebaran melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening sehingga menyebabkan terinfeksinya organ tubuh yang lain seperti otak, ginjal, saluran cerna, tulang, kelenjar getah bening dan lainnya meski yang paling banyak adalah organ paru.

Masuknya Mikobakterium tuberkulosa kedalam organ paru menyebabkan infeksi pada paru-paru, dimana segeralah terjadi pertumbuhan koloni bakteri yang berbentuk bulat (globular). Dengan reaksi imunologis, sel-sel pada dinding paru berusaha menghambat bakteri TBC ini melalui mekanisme alamianya membentuk jaringan parut. Akibatnya bakteri TBC tersebut akan berdiam/istirahat (dormant) seperti yang tampak sebagai tuberkel pada pemeriksaan X-ray atau photo rontgen.Seseorang dengan kondisi daya tahan tubuh (Imun) yang baik, bentuk tuberkel ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Lain hal pada orang yang memilki sistem kekebelan tubuh rendah atau kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Sehingga tuberkel yang banyak ini berkumpul membentuk sebuah ruang didalam rongga paru, Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (riak/dahak). Maka orang yang rongga parunya memproduksi sputum dan didapati mikroba tuberkulosa disebut sedang mengalami pertumbuhan tuberkel dan positif terinfeksi TBC.
Berkembangnya penyakit TBC di Indonesia ini tidak lain berkaitan dengan memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Hal ini juga tentunya mendapat pengaruh besar dari daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.

BAKTERI PENYEBAB

Mycobacterium tuberculosis (MTB) adalah patogen bakteri spesies dalam genus Mycobacterium dan agen penyebab kebanyakan kasus TB . Pertama kali ditemukan pada tahun 1882 oleh Robert Koch. TB memiliki lilin, lapisan yang tidak biasa di permukaan sel (terutama asam mycolic ), yang membuat sel-sel tahan terhadap pewarnaan Gram sehingga asam-cepat teknik deteksi yang digunakan sebagai gantinya. TB sangat aerobik dan membutuhkan tingkat tinggi oksigen. MTB menginfeksi paru-paru dan merupakan agen penyebab TB . diagnostik yang digunakan metode yang paling sering untuk TB adalah tes kulit tuberkulin, asam-cepat noda, dan radiografi dada.

M. tuberculosis membutuhkan oksigen untuk tumbuh . Ia tidak mempertahankan apapun untuk karena lemak tinggi kandungan bakteriologis noda di dinding, dan dengan demikian tidak Gram positif maupun Gram negatif; maka Ziehl-Neelsen , atau asam-cepat pewarnaan, digunakan. Sementara mikobakteri tampaknya tidak sesuai dengan kategori Gram-positif dari sudut pandang empiris (yaitu, mereka tidak mempertahankan noda violet kristal), mereka diklasifikasikan sebagai asam-cepat -bakteri Gram positif karena kurangnya mereka dari luar membran sel M. tuberculosis membagi setiap 15-20 jam, yang sangat lambat dibandingkan dengan bakteri lainnya, yang cenderung memiliki divisi kali dalam hitungan menit ( Escherichia coli (E. coli) dapat membagi kira-kira setiap 20 menit). Ini adalah kecil basil yang dapat menahan lemah desinfektan dan dapat bertahan dalam keadaan kering selama berminggu-minggu. dinding sel yang tidak biasa, kaya lipid (misalnya, asam mycolic ), kemungkinan bertanggung jawab untuk ketahanan ini dan merupakan faktor virulensi utama.

TB diambil oleh alveolar makrofag , tetapi mereka tidak dapat mencerna bakteri. Dinding selnya mencegah fusi dari fagosom dengan lisosom. TB blok molekul bridging, autoantigen endosomal awal 1 (EEA1), namun, blokade ini tidak mencegah fusi vesikel penuh dengan nutrisi. Akibatnya, bakteri berkembang biak dicentang dalam makrofag. Bakteri juga menghindari makrofag-membunuh dengan menetralisir nitrogen intermediet reaktif.

TB mutan dan individu produk gen uji untuk fungsi-fungsi tertentu secara signifikan telah maju pemahaman kita tentang patogenesis dan faktor virulensi M. tuberculosis . protein disekresikan dan diekspor Banyak diketahui penting dalam patogenesis. M. tuberkulosis ditandai dengan caseating granuloma mengandung sel Langhans raksasa , yang memiliki “tapal kuda” pola inti. Organisms are identified by their red color on acid-fast staining. Organisme diidentifikasi dengan warna merah pada asam-cepat pewarnaan.

Tuberkulosis menyebabkan penyakit paru-paru dapat menyebabkan pleuritis TBC, suatu kondisi yang dapat menyebabkan gejala seperti nyeri dada, batuk tidak produktif dan demam. Selain itu, infeksi dengan M. tuberculosis dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh, terutama pada pasien dengan lemah sistem kekebalan tubuh . Kondisi ini disebut sebagai miliaria TB dan menghubungi orang-orang mungkin mengalami demam, penurunan berat badan, kelemahan dan nafsu makan yang buruk Dalam kasus yang jarang terjadi lebih, tuberkulosis miliaria dapat menyebabkan batuk dan kesulitan bernafas (anonim, 2010).

Micobacterium tuberculosis (TB) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, menurut WHO sekitar 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang per tahun (WHO, 1993). Di negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara berkembang Dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia jumlah penderita TB akan meningkat. Kematian wanita karena TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan serta nifas (WHO). WHO mencanangkan keadaan darurat global untuk penyakit TB pada tahun 1993 karena diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB.

PATOGENESIS PENYAKIT

Sumber penularana adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe,saluran napas, atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.
Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

Riwayat terjadinya Tuberkulosis Infeksi Primer : Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di Paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran linfe akan membawa kuma TB ke  kelenjar linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4 / 6 minggu.
Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.

Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB) : Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri  khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.Komplikasi Pada Penderita Tuberkulosis : Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut :

Gejala – gejala Tuberkulosis:

Gejala Umum : Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih

Gejala Lain Yang Sering Dijumpai : Dahak bercampur darah. Batuk darah. Sesak napas dan rasa nyeri dada. Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.

TERAPI TUBERKULOSIS

Karena yang menjadi sumber penyebaran TBC adalah penderita TBC itu sendiri, pengontrolan efektif TBC mengurangi pasien TBC tersebut. Ada dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita TBC saat ini, yaitu terapi dan imunisasi. Untuk terapi, WHO merekomendasikan strategi penyembuhan TBC jangka pendek dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy). Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan melakukan pengawasan langsung.

Deteksi atau diagnosa pasien sangat penting karena pasien yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber penyebaran TBC berikutnya. Seseorang yang batuk lebih dari 3 minggu bisa diduga mengidap TBC. Orang ini kemudian harus didiagnosa dan dikonfirmasikan terinfeksi kuman TBC atau tidak. Sampai saat ini, diagnosa yang akurat adalah dengan menggunakan mikroskop. Diagnosa dengan sinar-X kurang spesifik, sedangkan diagnosa secara molekular seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) belum bisa diterapkan. Jika pasien telah diidentifikasi mengidap TBC, dokter akan memberikan obat dengan komposisi dan dosis sesuai dengan kondisi pasien tersebut. Adapun obat TBC yang biasanya digunakan adalah isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, streptomycin, dan ethambutol. Untuk menghindari munculnya bakteri TBC yang resisten, biasanya diberikan obat yang terdiri dari kombinasi 3-4 macam obat ini.

Dokter atau tenaga kesehatan kemudian mengawasi proses peminuman obat serta perkembangan pasien. Ini sangat penting karena ada kecendrungan pasien berhenti minum obat karena gejalanya telah hilang. Setelah minum obat TBC biasanya gejala TBC bisa hilang dalam waktu 2-4 minggu. Walaupun demikian, untuk benar-benar sembuh dari TBC diharuskan untuk mengkonsumsi obat minimal selama 6 bulan. Efek negatif yang muncul jika kita berhenti minum obat adalah munculnya kuman TBC yang resisten terhadap obat. Jika ini terjadi, dan kuman tersebut menyebar, pengendalian TBC akan semakin sulit dilaksanakan.

DOTS adalah strategi yang paling efektif untuk menangani pasien TBC saat ini, dengan tingkat kesembuhan bahkan sampai 95 persen. DOTS diperkenalkan sejak tahun 1991 dan sekitar 10 juta pasien telah menerima perlakuan DOTS ini. Di Indonesia sendiri DOTS diperkenalkan pada tahun 1995 dengan tingkat kesembuhan 87 persen pada tahun 2000 (http:www.who.int). Angka ini melebihi target WHO, yaitu 85 persen, tapi sangat disayangkan bahwa tingkat deteksi kasus baru di Indonesia masih rendah. Berdasarkan data WHO, untuk tahun 2001, tingkat deteksi hanya 21 persen, jauh di bawah target WHO, 70 persen. Karena itu, usaha untuk medeteksi kasus baru perlu lebih ditingkatkan lagi. Imunisasi Pengontrolan TBC yang kedua adalah imunisasi. Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyaki TBC. Vaksin TBC, yang dikenal dengan nama BCG terbuat dari bakteri M tuberculosis strain Bacillus Calmette-Guerin (BCG). Bakteri ini menyebabkan TBC pada sapi, tapi tidak pada manusia. Vaksin ini dikembangkan pada tahun 1950 dari bakteri M tuberculosis yang hidup (live vaccine), karenanya bisa berkembang biak di dalam tubuh dan diharapkan bisa mengindus antibodi seumur hidup. Selain itu, pemberian dua atau tiga kali tidak berpengaruh. Karena itu, vaksinasi BCG hanya diperlukan sekali seumur hidup. Di Indonesia, diberikan sebelum berumur dua bulan. Imunisasi TBC ini tidak sepenuhnya melindungi kita dari serangan TBC. Tingkat efektivitas vaksin ini berkisar antara 70-80 persen. Karena itu, walaupun telah menerima vaksin, kita masih harus waspada terhadap serangan TBC ini. Karena efektivitas vaksin ini tidak sempurna, secara global ada dua pendapat tentang imunisasi TBC ini. Pendapat pertama adalah tidak perlu imunisasi. Amerika Serikat adalah salah satu di antaranya. Amerika Serikat tidak melakukan vaksinasi BCG, tetapi mereka menjaga ketat terhadap orang atau kelompok yang berisiko tinggi serta melakukan diagnosa terhadap mereka. Pasien yang terdeteksi akan langsung diobati. Sistem deteksi dan diagnosa yang rapi inilah yang menjadi kunci pengontorlan TBC di AS. Pendapat yang kedua adalah perlunya imunisasi. Karena tingkat efektivitasnya 70-80 persen, sebagian besar rakyat bisa dilindungi dari infeksi kuman TBC. Negara-negara Eropa dan Jepang adalah negara yang menganggap perlunya imunisasi. Bahkan Jepang telah memutuskan untuk melakukan vaksinasi BCG terhadap semua bayi yang lahir tanpa melakukan tes Tuberculin, tes yang dilakukan untuk mendeteksi ada-tidaknya antibodi yang dihasikan oleh infeksi kuman TBC. Jika hasil tes positif, dianggap telah terinfeksi TBC dan tidak akan diberikan vaksin. Karena jarangnya kasus TBC di Jepang, dianggap semua anak tidak terinfeksi kuman TBC, sehingga diputuskan bahwa tes Tuberculin tidak perlu lagi dilaksanakan.

Bagaimana dengan Indonesia? Karena Indonesia adalah negara yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak, agaknya masih perlu melaksanakan vaksinasi BCG ini. Dengan melaksanakan vaksinasi ini, jumlah kasus dugaan (suspected cases) jauh akan berkurang, sehingga memudahkan kita untuk mendeteksi pasien TBC, untuk selanjutnya dilakukan terapi DOTS untuk pasien yang terdeteksi. Kedua pendekatan, yaitu vaksinasi dan terapi perlu dilakukan untuk memberantas TBC dari bumi Indonesia.

Terdapat 5 jenis antibotik yang dapat digunakan. Suatu infeksi tuberkulosis pulmoner aktif seringkali mengandung 1 miliar atau lebih bakteri, sehingga pemberian 1 macam obat akan menyisakan ribuan organisme yang benar-benar resisten terhadap obat tersebut. Karena itu, paling tidak, diberikan 2 macam obat yang memiliki mekanisme kerja yang berlainan dan kedua obat ini akan bersama-sama memusnahkan semua bakteri.

Setelah penderita benar-benar sembuh, pengobatan harus terus dilanjutkan, karena diperlukan waktu yang lama untuk memusnahkan semua bakteri dan untuk mengurangi kemungkinan terjadi kekambuhan. Antibiotik yang paling sering digunakan adalah isoniazid, rifampin, pirazinamid, streptomisin dan etambutol. Isoniazid, rifampin dan pirazinamid dapat digabungkan dalam 1 kapsul, sehingga mengurangi jumlah pil yang harus ditelan oleh penderita. Ketiga obat ini bisa menyebabkan mual dan muntah sebagai akibat dari efeknya terhadap hati. Jika timbul mual dan muntah, maka pemakaian obat harus dihentikan sampai dilakukan tes fungsi hati.Jika tes fungsi hati menunjukkan adanya reaksi terhadap salah dari ketiga obat tersebut, maka biasanya obat yang bersangkutan diganti dengan obat yang lain.

Pemberian etambutol diawali dengan dosis yang relatif tinggi untuk membantu mengurangi jumlah bakteri dengan segera. Setelah 2 bulan, dosisnya dikurangi untuk menghindari efek samping yang berbahaya terhadap mata. Streptomisin merupakan obat pertama yang efektif melawan tuberkulosis, tetapi harus diberikan dalam bentuk suntikan. Jika diberikan dalam dosis tinggi atau pemakaiannya berlanjut sampai lebih dari 3 bulan, streptomisin bisa menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan.

Jika penderita benar-benar mengikuti pengobatan dengan teratur, maka tidak perlu dilakukan pembedahan untuk mengangkat sebagian paru-paru. Kadang pembedahan dilakukan untuk membuang nanah atau memperbaiki kelainan bentuk tulang belakang akibat tuberkulosis.

PENCEGAHAN

Terdapat beberapa cara untuk mencegah tuberkulosis:

  • Sinar ultraviolet pembasmi bakteri, bisa digunakan di tempat-tempat dimana sekumpulan orang dengan berbagai penyakit harus duduk bersama-sama selama beberapa jam (misalnya di rumah sakit, ruang tunggu gawat darurat). Sinar ini bisa membunuh bakteri yang terdapat di dalam udara.
  • Isoniazid sangat efektif jika diberikan kepada orang-orang dengan resiko tinggi tuberkulosis, misalnya petugas kesehatan dengan hasil tes tuberkulin positif, tetapi hasil rontgen tidak menunjukkan adanya penyakit. Isoniazid diminum setiap hari selama 6-9 bulan. Penderita tuberkulosis pulmoner yang sedang menjalani pengobatan tidak perlu diisolasi lebih dari beberapa hari karena obatnya bekerja secara cepat sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penularan. Tetapi penderita yang mengalami batuk dan tidak menjalani pengobatan secara teratur, perlu diisolasi lebih lama karena bisa menularkan penyakitnya Penderita biasanya tidak lagi dapat menularkan penyakitnya setalah menjalani pengobatan selama 10-14 hari.

(makalah presentasi oleh : Risky U, Feriska M, Fifin Y, Zulaeni F)

, , ,

  1. #1 by 08613133 on December 27, 2010 - 11:16 am

    apakah TBC bisa terserang pada anakanka usia 4-5thn.dan bagaimana terapi TBC pada anak-anak usia 4-5tahun tersebut??

    • #2 by fifin yuniastuti (08613126) on December 27, 2010 - 8:03 pm

      Kelompok yang paling rawan terinfeksi bakteri TB adalah bayi dan anak usia kurang dari 1 tahun. Setelah itu, tingkat kerawanannya menurun. Bahkan pada kisaran usia 5-9 tahun, anak-anak memiliki tingkat resiko terinfeksi yang paling rendah. Usia 10 tahun ke atas, tingkat kerawanan infeksi itu kemudian akan meningkat kembali, meskipun tidak setinggi kelompok usia 0-1 tahun.

      cara terapi TBC pada anak tersebut dengan cara:
      Bila anak positif sakit TBC, maka harus diobati sampai benar-benar sembuh. Kombinasi obat anti TBC (OAT) untuk anak adalah Isoniasid (INH), Rifampisin, dan Pirazinamid. Ketiga obat tersebut diberikan selama 2 bulan pertama, lalu setelah itu, yaitu mulai bukan ketiga sampai keenam (4 bulan berikutnya) hanya diberikan kombinasi INH dan Rifampisin. Untuk bisa sembuh, anak (dan orang dewasa) penderita TB harus mengkonsumsi OAT secara teratur, setiap hari, dan dalam jangka waktu lama. Bakteri TB ini ’mati’ secara sangat perlahan. Butuh waktu minimal 6 bulan untuk ’membunuh’ semua bakteri Tb dalam tubuh. Setelah mengkonsumsi OAT selama 2 minggu, anak mungkin akan merasa lebih baik dan tampak sehat. Tetapi ia tetap harus mengonsumsi OAT sampai selesai masa pengobatannya, karena pada saat itu belum semua bakteri TB mati

  2. #3 by 08613208 on December 27, 2010 - 3:25 pm

    menurut saya bisa..
    Kelompok yang paling rawan terinfeksi bakteri TB adalah bayi dan anak usia kurang dari 1 tahun. Setelah itu, tingkat kerawanannya menurun. Bahkan pada kisaran usia 5-9 tahun, anak-anak memiliki tingkat resiko terinfeksi yang paling rendah. Usia 10 tahun ke atas, tingkat kerawanan infeksi itu kemudian akan meningkat kembali, meskipun tidak setinggi kelompok usia 0-1 tahun.

    penanganannya
    Bila anak positif sakit TBC, maka harus diobati sampai benar-benar sembuh. Kombinasi obat anti TBC (OAT) untuk anak adalah Isoniasid (INH), Rifampisin, dan Pirazinamid. Ketiga obat tersebut diberikan selama 2 bulan pertama, lalu setelah itu, yaitu mulai bukan ketiga sampai keenam (4 bulan berikutnya) hanya diberikan kombinasi INH dan Rifampisin. Untuk bisa sembuh, anak (dan orang dewasa) penderita TB harus mengkonsumsi OAT secara teratur, setiap hari, dan dalam jangka waktu lama. Bakteri TB ini ’mati’ secara sangat perlahan. Butuh waktu minimal 6 bulan untuk ’membunuh’ semua bakteri Tb dalam tubuh. Setelah mengkonsumsi OAT selama 2 minggu, anak mungkin akan merasa lebih baik dan tampak sehat. Tetapi ia tetap harus mengonsumsi OAT sampai selesai masa pengobatannya, karena pada saat itu belum semua bakteri TB mati.

  3. #4 by 08613082 on December 27, 2010 - 6:16 pm

    saya ingin menanyakan pernyatakan”gejala lainnya, dahak bercampur darah.batuk darah” bagaimana gejala itu bisa terjadi??{mekanisme nya}

  4. #5 by 08613082 on December 27, 2010 - 6:18 pm

    saya ingin menanyakan pernyataan “gejala lain nya dahak bercampur darah.batuk darah”.bgaimana gejala itu bisa terjadi…??(mekanismenya)

  5. #6 by 08613082 on December 27, 2010 - 6:19 pm

    saya ingin menanyakan pernyataan ” gejala lainnya, dahak bercampur darah. batuk berdarah” bagaimana gejala itu bisa terjadi?? {mekanismenya}

  6. #7 by 08613080 on December 27, 2010 - 7:04 pm

    Bisa saja,,
    Jika anak positif terkena TBC, dokter akan memberikan obat antibiotika khusus TBC yang harus diminum dalam jangka panjang yang berlangsung minimal 6 bulan. Lamanya pengobatan tidak bisa diperpendek karena bakteri TBC tergolong sulit mati dan sebagian ada yang “tidur”. Dengan pengobatan jangka panjang, diharapkan bakteri yang “tidur” itu bisa dihabisi begitu terbangun. Sedangkan sisa bakteri akan hancur sendiri oleh adanya kekebalan tubuh. Lagi pula jika dosis obat untuk enam bulan lalu dipersingkat dan dipadatkan menjadi satu bulan, penderita bisa keracunan. Jenis obat yang biasa diberikan di antaranya rifampisin atau pirazinamide.

  7. #8 by 08613080 on December 27, 2010 - 7:08 pm

    mohon koreksinya dari pak hady,,,:)

  8. #9 by 08613074 on December 27, 2010 - 7:52 pm

    pak saya ingin membantu menjawab pertanyaan dari teman saya,kalau menurut saya setelah saya baca makalah ini, semua orang bisa terinfeksi dengan penyakit TBC,diatas sudah jelas dengan menjelaskan bahwa penyakit ini dapat menyerang siapa saja baik tua maupun muda dan anak anak.
    untuk terapinya setahu saya dengan memberikan antibiotik secara teratur,perlu dibutuhkan perhatian yang lebih karena pada usia 4-5 th anak-anak tidak bisa meminum obat secara tepat waktu,,,karena seperti yang sudah dibicarakan pada waktu kuliah kemarin, yang membahas penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus waktu pemberian obat jikalau obat tidak terminum secara teratur bakteri pada waktu tertentu akan lemah saja,sesudah itu bakteri itu akan kembali menyerang lagi,dan akan menyebab infeksi tersebut bertambah parah,sebaiknya dalam peminuman obat apabila obat tersebut diminum 3x sehari,kita harus memperhatikan dengan benar waktunya,dan jangan sampai melalaikan karena bisa berakibat lebih buruk.sebelumnya saya minta maaf,dan terima kasih

  9. #10 by 08613056 on December 27, 2010 - 8:14 pm

    dikatakan diatas penyebab dari TBc itu virus,,.apakah benar poLemik yang ada dimasyarakat bahwa TBC itu juga disebabkan oLeh faktor genetik (keturunan),.???

  10. #11 by 08613053 on December 27, 2010 - 8:18 pm

    kepercayaan masyarakat awam biasa menyebutkan bahwa bergantian memakai peraLatan makan dan minum itu dapat menjadi saLah satu jaLan tertuLarnya penyakit TBC,.apakah itu memang benar,.????

  11. #12 by 08613105 on December 27, 2010 - 8:22 pm

    pada kondisi seperti apa TBC bs menyerang seseorang,apakah cuma dengan sering bersama pasien maka bisa terjangkit atau kondisi lain karena pada saat tante saya terkena TBC saya waktu itu dilarang untuk dekat2 dengan beliau dengan alasan bisa terjangkit???

  12. #13 by 08613053 on December 27, 2010 - 8:23 pm

    apakah benar kepercayaan dimasyarakat awam bahwa bergantian memakai peraLatan makan dan minum dengan orang yang mengidap TBC itu merupakan saLah satu jaLan tertularnya TBC,.????

  13. #15 by fifin yuniastuti (08613126) on December 27, 2010 - 8:32 pm

    Tidak semua orang yang terinfeksi bakteri TB, lalu menjadi sakit TB. Menurut TB/HIV Clinical Manual hanya sekitar 10% dari yang terinfeksi, berlanjut menjadi penderita TB (TB aktif). Kelompok yang paling rawan terinfeksi bakteri TB adalah bayi dan anak usia kurang dari 1 tahun. Setelah itu, tingkat kerawanannya menurun. Bahkan pada kisaran usia 5-9 tahun, anak-anak memiliki tingkat resiko terinfeksi yang paling rendah. Usia 10 tahun ke atas, tingkat kerawanan infeksi itu kemudian akan meningkat kembali, meskipun tidak setinggi kelompok usia 0-1 tahun.

    cara untuk terapi TBC pada anak:
    Bila anak positif sakit TBC, maka harus diobati sampai benar-benar sembuh. Kombinasi obat anti TBC (OAT) untuk anak adalah Isoniasid (INH), Rifampisin, dan Pirazinamid. Ketiga obat tersebut diberikan selama 2 bulan pertama, lalu setelah itu, yaitu mulai bukan ketiga sampai keenam (4 bulan berikutnya) hanya diberikan kombinasi INH dan Rifampisin. Untuk bisa sembuh, anak (dan orang dewasa) penderita TB harus mengkonsumsi OAT secara teratur, setiap hari, dan dalam jangka waktu lama. Bakteri TB ini ’mati’ secara sangat perlahan. Butuh waktu minimal 6 bulan untuk ’membunuh’ semua bakteri Tb dalam tubuh. Setelah mengkonsumsi OAT selama 2 minggu, anak mungkin akan merasa lebih baik dan tampak sehat. Tetapi ia tetap harus mengonsumsi OAT sampai selesai masa pengobatannya, karena pada saat itu belum semua bakteri TB mati

  14. #16 by 08613056 on December 27, 2010 - 8:37 pm

    tadi disebutkan di atas bahwa penyakit TBC disebabkan oleh bakteri mikobakterium tuberkulosa. tetapi polemik yang berkembang di masyarakat luas, bahwa penyakit TBC juga disebabkan oleh faktor genetik (keturunan). apakah benar faktor genetik (keturunan) dapat menyebabkan TBC??

  15. #17 by 08613089 on December 27, 2010 - 8:44 pm

    apa pengaruh epidemi penderita HIV terhadap penyakit TBC ini ?
    bagaimana mekanisme’nya?

  16. #18 by 08613109 on December 27, 2010 - 8:53 pm

    bagaiman mendiagosa pnyakit TBC bg anak2?

    • #19 by 08613215 on December 27, 2010 - 10:01 pm

      Diagnosis TBC anak didasarkan atas gambaran klinis, gambaran foto Rontgen dada dan uji tuberkulin. atau dengan menyuruh anak untuk mengeluarkan dahak nya sekitar 3-5 ml, dengan konsistensi kental dan purulen atau juga dapat dilakukan dengan menggunakan sistem skor .scoring system yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak.

  17. #20 by 08613009 on December 27, 2010 - 9:10 pm

    apakah perbedaan antara penyakit TBC dengan radang paru-paru?

  18. #21 by 08613142 on December 27, 2010 - 9:12 pm

    bagaimana mekanisme obat yang diberikan bekerja hingga menyembuhkan penyakit TBC??

    • #22 by 08613215 on January 3, 2011 - 12:23 am

      Obat utama dari TB adalah Isoniasida, Rifampisin, Pirazinamid, Ethambutol dan Streptomisin. Obat ini digunakan pada pengobatan TB pada umumnya dan obat ini bekerja secara bakterisid. Sedangkan obat cadangan seperti kapreomisin, kanamisin, tetrasiklin, protionamida digunakan jika obat utama tidak dapat ditoleransi atau terjadinya resistensi.

      Disini saya akan menjelaskan salah satu mekanisme dari obat utama nya yaitu Isoniazid (isonikotinhidrazida, INH). Obat ini bekerja dengan menghambat sintesis asam mikolat yang merupakan komponen terpenting pada dinding sel bakteri. INH sebagai molekul yang tidak terionisasi dapat melewati membran sitoplasma mikobakteri tanpa halangan, di dalam sel akan berubah menjadi asam isonikotinat dan menggantikan tempat asam nikotinat untuk masuk dibangun dalam NAD. Dengan cara inilah proses metabolisme dalam bakteri TB akan di blok.

      Mohon koreksinya Pak…

  19. #23 by 08613082 on December 27, 2010 - 9:38 pm

    saya ingin menanyakan pernyataan “gejala lain nya dahak bercampur darah.batuk darah”.bgaimana gejala itu bisa terjadi…??(mekanismenya)

  20. #24 by 08613177 on December 27, 2010 - 9:54 pm

    resiko seperti apakah yang akan dialami penderita TBC apabila ia terlambat mengetahui penyakit yang ia derita??mungkin karena minimnya fasilitas kesehatan di daerah tempat tinggal

    dan seandainya penderita tidak menginginkan adanya pengobatan,karena biaya atau keras kepala mungkin…berbahayakah bagi orang-orang disekitar dan lingkungan ia hidup??

  21. #25 by 08613152 on December 27, 2010 - 10:18 pm

    tadi dikatakan bahwa pencegahan TBC dapat dilakukan dengan menggunakan sinar UV.
    sedangkan kita tau bahwa sinar UV dapat menyebabkan mutasi gen dan berbahaya untuk sel hidup termasuk sel hidup manusia.
    misalnya saja pada pemeriksaan plat kromatografi di bawah sinar UV, kita diharuskan memakai sarung tangan, karena dianggap berbahaya bagi sel kita.
    pertanyaannya, apakah sinar UV untuk pencegahan TBC tersebut tidak berbahaya untuk manusia? apalagi sinar UV tersebut diletakkan di tempat-tempat umum?

  22. #26 by 08613200 on December 27, 2010 - 11:03 pm

    misalnya salah satu anggota keluarga ada yang sakit TBC, trus kalo kita make gelas atau sendok bekas si penderita. apakah kita bisa tertular juga?

  23. #27 by 08613091 on December 27, 2010 - 11:07 pm

    Diatas disebutkan bahwa bakteri akan membentuk rongga yang dijadikan produksi dahak. Apakah seseorang yang setiap harinya mengeluarkan dahak (tanpa batuk) itu sudah dapat dipastikan terdapat bakteri tuberculosis dalam paru-parunya?? jika ini merupakan gejala TBC, bagaimana pencegahannya agar tidak berangsur memburuk? terimakasih

  24. #28 by 08613082 on December 28, 2010 - 5:46 am

    saya ingin menanyakana mengenai pernyataan”Gejala Lain Yang Sering Dijumpai : Dahak bercampur darah. Batuk darah.”
    bagaimana gejala itu bisa terjadi?? {mekanismenya}

  25. #29 by 08613097 on December 28, 2010 - 9:48 am

    pak,, maaf sebelumnya saya lupa kalo kita ada diskusi. .
    hari minggu kmarin saya buka blm ada jdnya saya lupa lagi mau buka ..
    saya mau tanya pak,, org TBC itu knp selalu batuk ?? pdahal mereka kan udh minum obat ??
    sebenarnya TBC itu bisa disembuhkan atau tdk..,, soalnya ada saudara saya yang sudah berobat rutin tp masih saja gak sembuh. . (batuk2 terus). . ??

  26. #30 by 09613130 on January 6, 2011 - 8:24 pm

    ass,,
    bapak saya mau tanya,,apakah merokok dapat menyebabkan penyakit TBC????
    dan mengapa pengobatan TBC butuh jangka waktu yang lama???

  27. #31 by 06613028 on January 8, 2011 - 9:07 pm

    Ass….
    1. terapi TBC kan bisa dengan FDC atau KOMBIPAK??? tolong dijelaskan
    2. bagaimana terapi untuk pasien khusus seperti ibu hamil pada penggunaan streptomisisin….
    pda paseien dengan hepatitis akut……dan pada pasien dengan diabetes melitus yg diterapi sulfonilurea…..

    makasih

  28. #32 by (07613081) on January 8, 2011 - 9:23 pm

    pak saya mau tanya, apakah bahan alami yang bersifat antibakteri apakah juga berarti dapat digunakan untuk penyakit TBC ini???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: